Mengenal Santo Servatius


Paroki Kampung Sawah, Gereja Katolik Santo Servatius, sudah dikenal sebagai gereja Betawi yang terletak di segitiga emas Kampung Sawah, sebagai bagian dari komunitas yang mengedepankan persaudaraan dan kebhinnekaan. Gereja St. Servatius juga telah menjadi “icon” tempat pembelajaran bagi komunitas-komunitas lain di Indonesia dan bahkan Internasional. Isitilah kerennya sebagai tempat “Study Banding” mengenai bagaimana mempertahankan persaudaraan di tengah keberaragaman suku, ras, budaya, dan agama. Bahkan tentang bagaimana bisa bertahan di tengah badai ajaran radikalisme yang makin berkembang saat ini.

Umat paroki Kampung Sawah sendiri bahkan sering tidak merasa kalau gerejanya memiliki hal yang sangat istimewa di mata dunia. Mungkin inilah yang disebut “we take it for granted”, sudah merasa punya jadi rasanya ya biasa2 saja. Tidak atau kurang bersyukur. Padahal gereja Santo Servatius juga memiliki reliks 114 orang Santo dan Santa yang terletak di sebelah kiri altar gereja. Luar biasa bukan? Siapakah Santo Servatius? Seberapa kenalkah kita akan Santo Pelindung Gereja kita?

Santo Servatius adalah orang Armenia, lahir di Fenuste, sebelah Tenggara Damaskus, Siria. Dia adalah sepupu dari Yohanes Pembaptis, dengan begitu dia pun memiliki hubungan jauh dengan Tuhan Yesus. Hal ini dipertegas oleh buku biografi yang ditulis oleh seorang pastor berkebangsaan Perancis, Pastor Jocundus, pada tahun 1075. Dia menulis buku yang berjudul “Vita Sancti Servatii” (Biografi Santo Servatius) dan “Miracula Sancti Servatii” (Keajaiban Santo Servatius) yang menceritakan keajaiban2 yang terjadi setelah kematian Santo Servatius.

Awal mulanya, Santo Servatius adalah Uskup di Tongeren, Belgia. Pada saat menjaga makam Santo Petrus di Roma, dia mendapatkan penglihatan akan kehancuran Tongeren karena dosa2 umat di kota tersebut. Dia menerima kunci surga dari Santo Petrus, dan menerima kuasa atas pengampunan dosa. Dia pun kembali ke Tongeren, dan membawa reliks para pendahulunya ke kota Maastricht, Belanda, untuk disemayamkan di sana. Santo Servatius tertulis namanya di beberapa Sinode dan konsul gereja.

Dia dikenal sebagai Uskup yang gigih dalam ajaran Trinitarian, doktrin gereja atas Trinitas, dan berdebat dengan para Arian dan memerangi para penganut Arianisme yg umumnya dari gereja-gereja Timur yg menentang ajaran Trinitarian, dan menganggap Yesus adalah manusia biasa. Santo Servatius wafat pada tanggal 13 Mei 384. Dia dimakamkan di dekat jembatan di Maastricht. Saat penggalian di Basilica Santo Servatius di Maastricht pada tahun 1990, ditemukan sisa-sisa bangunan gereja abad ke 6 yang dibangun oleh Uskup Monulph (seperti ditulis oleh Gregory, seorang sejarawan Galo-Roman dan Uskup dari Tours) dan salah satunya ditemukan sisa makam, yang kemungkinan besar adalah makam Santo Servatius.

Peringatan wafatnya Santo Servatius dirayakan oleh umat paroki Kampung Sawah bersamaan dengan perayaan Sedekah Bumi. Saat ini makam Santo Servatius berada di “crypt” bawah tanah Basilica St. Servatius di Maastricht, Belanda. Kotak reliks (reliquary chest) dari abad ke 12 atau dalam Bahasa Belanda disebut “Noodkist” dibawa keliling kota pada saat kota dalam keadaan kesulitan. Sekarang prosesi perarakan reliks Santo Servatius dan Santo/Santa lainnya dilakukan setiap 7 tahun sekali. Kota Maastricht menjadi kota tujuan ziarah Katolik. Bapak Paus Yohanes Paulus II pernah berziarah ke sana. Perarakan atau prosesi reliks berikutnya adalah tahun 2025.

Umat paroki Kampung Sawah sungguh beruntung. Romo Kuris mendatangkan reliks atau kerangka Santo Servatius dan 113 Santo/Santa lainnya ke Kampung Sawah pada tahun 1996. Kita tidak perlu menunggu tiap 7 tahun untuk mengikuti prosesi perarakan kerangka Santo pelindung gereja kita. Karena setiap setahun sekali, saat umat paroki merayakan hari ulang tahun gereja yang jatuh pada tanggal 6 Oktober, kita akan bersama-sama mengadakan misa dan melakukan prosesi perarakan reliks Santo Servatius keliling beberapa tempat di Kampung Sawah pada tanggal 30 September. Tanggal 30 September dipilih untuk mengenang betapa sulitnya perjuangan untuk membawa masuk reliks para Santo/Santa ke Indonesia, dan selama perjalanannya sampai disemayamkan di Kampung Sawah.

Saya yakin Santo pelindung gereja kita jugalah yang terus menerus mendoakan kerukunan umat paroki dan warga sekitar di Kampung Sawah. Mari bapak/ibu/OMK, kita sama-sama mengikuti prosesi perarakan reliks Santo Servatius. Seorang Santo dari abad ke 4. Inilah kekayaan paroki kita. Paroki Kampung Sawah bisa menjadi tujuan peziarahan umat Katolik. Kita tidak perlu jauh2 ke Maastricht atau ke kota2 lain nun jauh di sana untuk melakukan ziarah.

Inilah kita, Paroki Kampung Sawah, “Oase Rohani bernuansa Betawi”.

Santo Servatius, doakanlah kami. Amin

 

Ursula Utami Riandayani Sri Lestari

Sekretaris DPH

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com