Renungan 29 September 2019: BERANI MEMPERKENALKAN WAJAH TUHAN


                       Berani memperkenalkan wajah Tuhan menjadi tugas kita bersama. Sosok Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang tidak meninggalkan orang-orang yang tanpa harapan baik di dunia maupun di akhirat. Tuhan menyapa baik yang kaya maupun yang miskin. Bagaimana ini bisa direnungkan dan diresapkan?

                      Dalam Luk 16:19-31 ditampilkan perumpamaan mengenai seorang kaya dan Lazarus. Ini dipahami dalam konteks kehidupan Gereja awal. Kini cukup diketahui bahwa kebanyakan generasi kedua para pengikut Yesus berasal dari kalangan menengah seperti para pengusaha, pedagang, sarjana, tabib, guru, seniman yang bekerja pada keluarga-keluarga bangsawan atau penguasa militer di kota-kota di wilayah kekuasaan Romawi. Perkembangan umat memang pertama-tama meluas ke lapis atas dalam masyarakat. Dari sana baru kemudian ke lapis-lapis lain di masyarakat luas.

Di kalangan itu tumbuh kesadaran baru. Warta mengenai Kerajaan Allah tidak hanya menjawab keinginan untuk selamat kelak di akhirat. Kesadaran baru itu juga menjadi dorongan untuk memperhatikan orang-orang yang tidak seberuntung mereka, yakni kaum miskin yang hidup di luar kalangan mereka. Karena itu komunitas kristiani awal juga meluas ke lapis bawah. Keadaan ini tercermin dalam gambar ideal mengenai jemaat pertama dalam Kis 2:44-45 dan 4:34-35.

Hubungan antar anggota semakin didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan yang tidak lagi mengikuti batas-batas kelompok sosial, bahkan mengatasi perasaan permusuhan turun-temurun. Perumpamaan orang Samaria yang baik hati mencerminkan kesadaran ini. Bagi umat Gereja Awal, kehidupan ini rasanya belum utuh bila ada satu saja nilai kemanusiaan yang tidak diterima.

Dalam perumpamaan itu orang kaya menunjuk kepada orang yang berkelimpahan. Ia beruntung. Di mata banyak orang ia mendapat berkat melimpah dari Tuhan. Lazarus adalah orang yang tidak beruntung. Ia seakan tidak bermartabat. Ia miskin. Ia tidak dapat mengisi perut dari sisa-sisa makanan.

 

Siapa orang kaya itu? Ketika masih hidup dan berkedudukan tinggi, orang kaya itu tak peduli bahwa ada orang yang kelaparan dan sakit di dekat pintu gerbang rumahnya. Sebetulnya ia bisa berbuat baik kepada Lazarus. Sedikit kebaikan saja takkan mengurangi miliknya. Malah ia akan beruntung karena kebaikannya nanti akan diingat di akhirat. Boleh jadi ia juga tak percaya ada kelanjutan hidup di akhirat. Ia baru merasakan kebenaran setelah betul-betul mati.

Apa yang tidak beres dalam kehidupan orang kaya tadi? Ia tidak mampu lagi berkomunikasi dengan orang yang membutuhkan pertolongan. Kenapa? Ia tidak membiarkan dirinya sendiri atau orang lain seperti dia belajar mendengarkan Tuhan. Ketumpulan batin orang kaya tadi telah mengikis nurani kemanusiaannya sendiri. Ia tidak bisa merasakan belas kasihan terhadap Lazarus meski ia tiap hari melihatnya duduk di dekat pintu gerbang rumahnya. Ketumpulan batin itu akhirnya mengurungnya di neraka.

Perumpamaan ini dimaksud agar para murid tidak meninggalkan baik yang kaya maupun yang miskin. Tugas mereka adalah bagaimana mengurangi jarak antara yang miskin dengan kebaikan Tuhan di dunia dan jarak antara yang kaya dengan kebahagiaan yang tidak diperoleh di akhirat.

Kalau ini terjadi, orang-orang kaya mau berbagi keberuntungan bagi orang-orang yang berkekurangan dengan cara yang cocok. Kebahagiaan mereka justru semakin bertambah ketika mereka mau berbagi berkat. Harta kekayaan adalah titipan. Orang-orang seperti Lazarus pun tidak putus asa. Ada perhatian dan kepedulian.

Bagaimana pesan ini bisa diresapkan dan diwujudkan dalam hidup kita sehari-hari? Pertama-tama, mempertajam nurani kita akan keadaan sekitar kita. Kedua, berani memperkenalkan wajah Tuhan yang tidak meninggalkan siapa pun. Ketiga, ikut melibatkan diri dalam ikut menyejahterakan warga masyarakat.

Tuhan Yesus, semoga kami dapat semakin berani memperkenalkan wajah Tuhan yang selalu memberikan harapan bagi siapa pun baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Amin. (War, 29 Sep 2019)

 

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com