Renungan 2 Juni 2019: Mendoakan


              Yesus mendoakan para murid dan orang-orang yang percaya kepadaNya. Dia mendoakan, agar mereka bersatu, sebagaimana Yesus bersatu dengan Bapa. Apa yang kiranya dipikirkan oleh Yesus mengenai doa itu menurut Yohanes? Apa arti doa Yesus “agar di mana pun aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan aku...sehingga mereka memandangi kemuliaanku yang telah Engkau (=Bapa) berikan kepadaku, sebab Engkau mengasihi aku sebelum dunia dijadikan."?

              Dalam Yoh 17:20-26 ditampilkan doa Yesus dalam Perjamuan Terakhir. Tujuan Yohanes adalah supaya makin mengerti siapa Yesus itu.  Dalam doa orang jujur di hadapan Yang Mahakuasa. Itulah ungkapan batin terdalam orang. Beruntung kita bisa mendengarkan doa Yesus. Yesus berdoa bersama para murid yang sudah bebas dari pengaruh jahat. Doa Yesus pasti terkabul, karena Ia dekat dengan Bapa.

              Apa isi doa Yesus? Yesus   berdoa bagi kesatuan para murid dan mereka yang percaya. Ia tidak ingin mereka mengalami perpecahan. Namun bukan Ia bermaksud membuat mereka merasakan hidup damai bersatu seperti di Firdaus. Ia ingin menunjukkan mengapa bersatu itu ada punya nilai sendiri. Maksudnya, supaya mereka bisa ikut menyadari kesatuan antara dia dengan Bapanya. Ia berdoa agar mereka bersatu seperti ia bersatu dengan Bapanya. Jadi kesatuan dengan Bapanya itulah "paradigma"-nya.

Dilihat dari pengalaman batin orang, kesatuan itu menjadi mudah dipahami. Lihat pengalaman kesatuan di keluarga atau  lingkungan. Kalau ada kesatuan, maka ada kebahagiaan dan sukacita. Itulah yang mau dinyatakan. Contoh modelnya adalah kesatuan Yesus dengan Allah Bapa.

Seluruh pewartaan Injil Yohanes justru berfokus pada kesatuan Yesus dengan Bapanya. Jadi Injil Yohanes baru mudah dipahami bila orang mau melihat bahwa kesatuan itu memang dapat mendatangkan kebahagiaan dan membuat orang merasa tak kurang suatu apa. Ringkasnya, pengalaman batin   dalam menghadapi kesatuan atau perpecahan itu pengalaman yang amat berharga karena dapat membuat   memahami kehadiran Yang Ilahi sendiri.

Tidak disangkal bahwa masih ada sisi-sisi gelap dalam hidup kita. Bukan gelap bagi persepsi orang lain, tapi bagi diri kita masing-masing. Memang kita belum utuh. Dan banyak orang menderita karena itu. Kesukaran ini sering tak terkatakan dan hanya bisa dihidupi. Namun bernilai. Sang Firman itu datang bersinar ke dunia yang terkurung kegelapan. Tak semua sisi dunia ini dapat menerima terangnya. Tapi ia terarah bagi semua sisi kehidupan. Inilah yang makin lama makin kumengerti sebagai kebesaran Tuhan. Ia datang kepada siapa saja, baik yang menerima maupun yang tidak segera menerimaNya. Bahkan yang menolakNya pun tidak dijauhiNya. Ia tetap menunggu. Ia membiarkan orang berjalan sampai menemukanNya.

Sejak awal Tuhan itu ada bagi siapa saja. Tak ada yang bisa berada tanpa kehadiranNya.  Orang tidak bisa mendiamkanNya saja. Ia mendatangi orang-orangNya. Ia berperhatian. Kita mungkin belum menyadarinya. Tapi nanti akan kita lihat betapa besarnya perhatianNya kepada orang-orang, kepada alam ciptaan. Ia memandangi semuanya. Kita ini menjadi bagian dari dia yang dikasihiNya, dari Yesus yang sekarang mendoakan.

Jelas bahwa Yesus mendoakan para murid dan mereka yang percaya. Isinya adalah supaya mereka bersatu sebagaimana Yesus bersatu dengan Bapa. Inilah contoh kesatuannya. Kesatuan itu menunjuk kepada pengalaman batin kita juga. Pengalaman kesatuan yang membahagiakan memperdalam pemahaman itu.

Apakah kita mendoakan orang-orang yang dekat dengan kita? Keluarga kita? Orang yang bekerja sama dengan kita? Isi doanya apa? Kita diajak untuk mendoakan mereka. Pengalaman batin kita akan mendukung kita.

Tuhan Yesus, semoga kami dapat meneladanMu untuk mendoakan orang-orang yang dekat dengan kami. Amin.  (War, 2 Juni 2019)

 

 

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :