New York Ingin Mengimpor Kampung Sawah


Pendeta AR Bernard pakaian jas hitam baju merah - Foto :

"Kami mau mengimpor kearifan-kearifan lokal yang ada di Kampung Sawah ke New York, " begitu kurang lebih niat Pendeta AR Bernard, pendeta dari Christian Cultural Centre Megachurch, New York setelah berdiskusi panjang lebar dengan para tokoh Kampung Sawah, sore (16/5) itu.

Kunjungan Pendeta Bernard terasa begitu mendadak. Namun niatnya yang tulus untuk menggali kearifan yang ada di Kampung Sawah, membuat Eko Praptanto beserta pegiat kerukunan umat beragama yang lain berupaya keras menyambutnya dengan baik. Persiapan serba mendadak selalu terasa afdol  jika sudah diskusi dengan tokoh masyarakat, Kepanikan melanda ketika rombongan ternyata tiba di Kampung Sawah satu jam lebih cepat dari waktu yang disepakati. Para tokoh yang akan berkumpul juga ikutan tergesa. 

Sesuai rencana, pertama-tama rombongan menuju rumah Abah Kiai Rahmadin Afif. Eko tak mengira pertanyaan-pertanyaan pendeta Bernard kepada Abah begitu mendalam. Tak cuma soal kerukunan, perdamaian, namun juga soal peribadahan kaum muda Islam, Imam Masjid, dan sebagainya. Abah berkali-kali menyebut kewajiban umat beragama untuk punya sikap damai. Untuk menyegarkan suasana, Abah bercerita kisah masa kecilnya saat sekolah, sebuah kisah jenaka yang membuat Pendeta Bernard tertawa lepas.

Rombongan pun bergerak ke pastoran Gereja Santo Servatius. Rm Widoyoko, Bang Mathe Nalih, dan Mpok Utami Halliday  yang menyambut rombongan. Di sini Pendeta Bernard gigih menggali soal nilai-nilai inkulturasi gereja katolik yang terejawantah dengan manis di Kampung Sawah. Seni budaya Kampung Sawah memang kerap tersaji enak pada banyak acara di masyarakat. Alhamdulillah, tradisi jaga budaya sudah tertular apik ke kaum muda, salah satunya lewat Sanggar Sasak Djikin, yang sore ini tampil sebagai pelakon Palang Pintu untuk menyambut tamu dari Brooklyn, New York tersebut.

Ngeriung pamungkas dilakukan di GKP, rumah ibadah tertua di Kampung Sawah. Di sini lah, ketika ditanya kesan atas kunjungan beberapa jam di Kampung Sawah, Pendeta Bernard menyampaikan niatnya tersebut,"Ingin mengimpor tradisi kearifan lokal di Kampung Sawah ke New York." Beliau juga merasakan, bahwa selain budaya, ikatan keluarga yang kuat, yang disebut oleh bang MatheNalih sebagai "pohon keluarga" merupakan tali kuat berdaya tahan tinggi yang mengharmoniskan orang Kampung Sawah.

Seusai mengiringi rekan-rekan muslim berbuka puasa dan sholat magrib, rombongan makan malam sambil ngeriung. Hadir juga di situ tokoh muda NU, bang Yuherisman Sangaji, Gus Achmed Al Munawi, santri ponpes Al Azis, mas Muhammad Arifin, Gus Malik alias Ust Sholahudin Malik, serta beberapa tokoh gereja kristen di seputaran Kampung Sawah. Ngeriung sebentar.

Saat pamit ke Pendeta Dewi Agustina, beliau menimpali Eko dengan ucapan syukur,"Acara dadakan saja bisa kita setting dengan bagus..."

Eko melenggang pulang dengan bahagia. Ikatan keluarga, hmm, ternyata itu yang menjadi daya tahan Kampung Sawah. 

 

Eko Praptanto
Editor: Brian Prasetyawan

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :