Renungan 16 September 2018: Perbincangan Mengenai Yesus


sumber: sesawi.net - Foto :

                  Perbincangan mengenai siapakah Yesus itu memperluas pandangan dan memperdalam iman kita. Mengapa? Karena berbagai pandangan/anggapan mengenai Yesus memperkaya sekaligus menajamkan pengenalan akan pribadi Yesus. Siapa yang mengikuti Yesus perlu mengenalNya dengan lebih mendalam, sehingga bisa semakin mencintaiNya. Pengenalan personal akan Yesus dibutuhkan. Bagaimana ini bisa direnungkan dan diresapkan dalam kehidupan kita sehari-hari?         

                 Dalam Mrk. 8:27-35 dikisahkan perbincangan mengenai siapa Yesus itu menurut orang banyak dan para murid. “Engkaulah Mesias,” jawab Petrus. Yesus juga memberitahukan dengan terus terang bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan dibunuh serta tiga hari kemudian bangkit.

Di manakah tempat perbincangan itu terjadi? Kejadian itu bertempat di Kaisarea Filipi. Kota itu terletak di utara, di kaki gunung Hermon, di Libanon. Itu sekitar 45 km sebelah timur kota Tirus. Mengapa di sana? Yesus memilih tempat atau daerah yang netral. Yang dipilih bukan di Galilea, tempat asal Yesus sendiri. Bukan di Yudea yaitu wilayah keyahudian yang resmi. Tidak pula di Samaria yang tidak menerima keyahudian resmi.  Injil Markus mengisahkan macam-macam kegiatan dan pengajaran Yesus. Ia makin dikenal orang banyak. Juga makin diawasi oleh orang Farisi dan ahli Taurat yang mengira ia mengajarkan yang bukan-bukan. Pada titik ini perlu ditunjukkan bagaimana lingkungan terdekat Yesus memahaminya. Di situ akan lebih jelas siapa sosok dia itu sesungguhnya.

Apa yang menjadi bahan perbincangan? Di Kaisarea Filipi yang netral itu kelompok Yesus dan murid-muridnya memperbincangkan tiga macam pandangan mengenai Yesus. Pertama, anggapan orang banyak, kedua, anggapan dari lingkup lebih khusus, orang Farisi dan ahli Taurat di satu pihak dan ketiga, para murid terdekat di pihak lain.

                 Pendapat pertama, anggapan orang banyak. Dari kisah-kisah Injil akan jelas makin besarnya pelbagai harapan, keinginan, dan cara membayangkan sosok Yesus di pelbagai kalangan. Ada yang mengira Yesus kayak Yohanes Pembaptis karena seruan gerakan rohaninya. Dia mengajak orang mengarahkan diri kembali ke hidup lurus atau bertobat. Dibayangkan juga seperti Nabi Elia yang kembali ke dunia menyampaikan sabda dari atas sana guna mengatasi kekersangan batin. Atau seperti seorang nabi lain, yakni orang yang berani menyuarakan kehadiran Tuhan yang kerap terbungkam oleh ketamakan manusia. Itulah macam-macam pendapat orang mengenai siapa Yesus itu.

                 Pendapat kedua, anggapan dari kaum Farisi dan ahli Taurat. Kaum Farisi dan ahli Taurat melihat Yesus sebagai guru agama, teolog atau pembimbing rohani sebagaimana seperti profesi mereka. Tapi sosok Yesus yang ditampilkan Injil terutama bukanlah guru atau pembimbing rohani, atau pengajar kebijaksanaan. Bukan seperti anggapan kaum saleh Farisi dan ahli kitab Taurat. Yesus lebih dari itu.

Pendapat yang ketiga ada di kalangan para murid Yesus dan yang terucap lewat Petrus. Ia menjawab pertanyaan Yesus mengenai siapa dirinya dengan pernyataan "Engkau itu Mesias". Apa arti Mesias? Itu berarti yang terurapi, yang mendapat pengutusan dan perutusan resmi dari Yang Maha Kuasa sana untuk menjalankan urusan-Nya di dunia. Apa kekhususan pandangan bahwa Yesus itu Mesias? Dia itulah yang sejak lama dinantikan orang banyak. Mereka menginginkan Yang Maha Kuasa berbuat sesuatu bagi mereka. Kehadiran Yesus itulah jawaban dari atas sana.

Mesias itu juga merupakan gelar raja di kalangan umat Perjanjian Lama dulu, seperti Saul, Daud, dan raja-raja lain yang diurapi oleh kuasa ilahi demi kelangsungan hidup umat. Gagasan Mesias memang mudah diplesetkan. Supaya gagasan itu tidak diplesetkan, maka Yesus melarang menyebarluaskan pengertian itu. Kemudian  Yesus malah membicarakan diri dengan ungkapan "Anak Manusia" dan tidak pernah menyuarakan diri dengan kata "Mesias". Yesus mengubah perbincangan yang Mesias-sentrik dengan wacana kalem yang berpusat pada figur Anak Manusia.

Dalam Kitab Dan 7:13 sosok yang seperti Anak Manusia yang datang dengan awan-awan menghadap ke Yang Maha Kuasa  untuk mendapat kuasa. Anak Manusia dalam Kitab Daniel itu datang dari kalangan manusia untuk menerima kuasa dari atas sana. Ini penting. Mesias berkebalikan arahnya, ia membawa kuasa dari atas sana ke sini.

Jelas bahwa perbincangan mengenai Yesus sampai kepada pemahaman dan kesadaran Yesus sebagai Mesias, Anak Manusia. Itulah jatidiri Yesus. Gambaran sebagai Anak Manusia menegaskan bahwa anugerah dari Yang Maha Kuasa yang diterimanya itu bukannya untuk mempertontonkan kuasa, melainkan pemberian kekuatan untuk menanggung penderitaan nanti, sampai dinaikkan di salib. Tapi juga kekuatan yang bakal membuatnya bangkit.

Tuhan Yesus, semoga kami dapat semakin mengenalMu, sehingga kami dapat semakin mencintai dan mengikuti.   Amin

Rm. Wartaya, SJ

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :