Renungan 9 September 2018: Dibuka Oleh Yesus


 

                Perjumpaan dengan Yesus membuka jalan bagi Allah. Mengapa? Karena Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup.  Perjumpaan itu juga menyembuhkan. Penyembuhan merupakan buah samping dari perjumpaan dengan Yesus. Perjumpaan personal dengan Yesus itulah yang utama. Perjumpaan personal dengan Yesus membuahkan pendalaman iman mengenai siapa Yesus itu. Bagaimana ini bisa direnungkan dan diresapkan melalui bacaan-bacaan kali ini?

                 Dalam Mrk. 7:31-37 ditampilkan peristiwa penyembuhan orang tuli. Hanya Markuslah yang menyampaikan kisah penyembuhan dari ketulian. Memang Mateus  menyebut mengenai penyembuhan pelbagai orang sakit, termasuk orang bisu. Tetapi Mateus (Mat 15:29-31) tidak menyebut eksplisit sebagai tuli, tapi orang bisu biasanya karena tuli.  Orang tuli dibawa oleh orang-orang. Tujuannya adalah supaya Yesus meletakkan tangan atasnya. Orang tuli itu dipisahkan dari orang banyak. Yesus berjumpa secara pribadi dengannya.

Ada tiga pokok yang bisa direnungkan dan diresapkan. Pertama, peristiwa itu terjadi dalam perjalanan. Yesus berjalan dari Tirus dan Sidon ke Danau Galilea. Di tengah-tengahnya Dia lewat Dekapolis. Mengapa penting menceritakan perjalanan itu? Kisah perjalanan ini diceritakan karena menggambarkan bagaimana perjalanan Yesus itu adalah sebuah ziarah yang semakin membentuk sikap batinnya yang khas. Di situlah Yesus  memberi isi nyata pada kata "kehendak Allah". Yesus menjalankan pengabdiannya pada kemanusiaan, tak peduli apa haluan kepercayaannya. Itulah yang dialami oleh Yesus sebagai kehendak Bapanya.

Kedua, kisah penyembuhan itu. Pernah diceritakan juga soal penyembuhan Bartimeus. Dia adalah seorang buta. Kesembuhan si tuli dan si buta ini ada makna simboliknya. Mereka jadi sembuh dalam perjumpaan dengan Yesus yang tak terduga-duga di tengah perjalanannya, di tengah ziarahnya menemukan kehendak Bapanya. Kesembuhan mereka itu ialah kesembuhan dari ketulian dan kebutaan mengenai siapa sebetulnya Yesus ini.

Kisah ini dimaksudkan bagi orang banyak, juga umat saat ini. Perjumpaan dengan Yesus sang pejalan ini membuka gerbang telinga dan pintu mata. Ketulian sesenyap apapun dan kebutaan segelap apapun tak bisa menahan suara dan terang yang keluar dari diri Yesus.

                 Dalam kisah penyembuhan orang tuli ini ada orang banyak yang membantu si tuli untuk bertemu dengan Yesus. Mereka meminta agar Yesus menumpangkan tangan menyembuhkannya. Orang banyak diajak mendengar dan melihat. Kita ini kadang-kadang mirip orang banyak juga.

                 Lihat sikap dan tindakan Yesus dalam penyembuhan orang tuli itu. Ia memisahkannya dari kerumunan orang banyak sehingga hanya mereka berdua sendirian saja. Di situ terjadi penyembuhannya. Apa tujuan pemisahan itu? Tujuannya adalah agar yang pertama-tama didengar orang tuli itu nanti ialah suara yang dibawakannya, bukan kasak kusuk orang banyak. Tentu si tuli tadi kemudian bercerita. Dari sana kita agak tahu bahwa Yesus memasukkan jarinya ke telinga orang itu, meludah dan meraba lidah orang tadi.Sambil menengadah ke langit, Yesus  mendesah dan berkata, dalam bahasa Aram, "Efata!" artinya "Terbukalah!" Perintah itu ditujukan kepada dua telinga yang dimasuki jarinya. Perintah kepada telinga yang menutup diri kuat-kuat.

Menarik bahwa Yesus mendesah kayak orang yang sedang kena kesakitan. Ini dimaksudkan,  Yesus seperti sedang menahan sakit. Ada pergulatan antara kekuatan yang menolak sang Sabda dengan Sabda yang mendatanginya. Itu disertai kesakitan dari Sabda itu. Juga ia menyentuh lidah orang tadi. Bayangkan saja, ibu jarinya menyentuh lidah orang tadi. Juga ada pergulatan antara lidah yang dikuasai kekuatan yang membisukan melawan dia yang membuat orang berani bersaksi. Yesus juga meludah. Kekuatan jahat dari telinga yang diambilnya itu masuk ke dalam badannya, badan Yesus sendiri, dan kini diludahkannya dan dibuangnya keluar.

 

 

 

Ketiga, perintah Yesus yang menyuruh orang banyak merahasiakan kejadian itu. Tapi makin dilarang, mereka malah makin memberitakannya. Larangan itu sebenarnya untuk menghimbau agar orang tidak mengobral cerita sehingga maknanya jadi buyar. Misalnya, hanya jadi kisah penyembuhan dan penumpangan tangan semata-mata. Banyak orang akan berbondong-bondong minta ditumpangi tangan. Kesembuhan itu merupakan hasil sampingan dari kejadian yang lebih dalam. Orang-orang diminta mengendapkan pengalaman melihat peristiwa itu dan menemukan artinya. Sayang mereka tak sabar, maka Yesus ketika itu makin dikenal sebagai penyembuh saja, bukan terutama sebagai Anak terkasih Dia yang ada di surga dan mendapat perkenan-Nya. Padahal yang lebih dituju adalah realitas kebangkitan Yesus: ia sungguh Anak Allah.

Sejauh mana perjumpaan personal kita semakin mengenalkan siapa Yesus itu? Bukan buah-buah sampingan yang utama, tetapi justru semakin mengenalkan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Di situlah seluruh apa yang diajarkan dan dilakukan oleh Yesus bermakna.

Tuhan Yesus, semoga kami dapat semakin berjumpa secara personal denganMu dalam hidup kami sehari-hari. Amin.           

Rm. Wartaya, SJ

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :