Renungan 19 Agustus 2018: Bersatu Dengan Kehidupan Yesus


Apa peranan Ekaristi dalam hidup kita sehari-hari? Apakah Ekaristi sungguh menjadi sumber dan puncak iman kita? Bagaimana Ekaristi menjadi bermakna dalam kehidupan kita sehari-hari? Kiranya pertanyaan-pertanyaan itu bisa menggugah permenungah kita.

Dalam Yoh. 6:51-58, dijelaskan bagaimana Yesus menjadi roti hidup yang turun dari Surga dan yang memberi hidup selama-lamanya. Mengapa? Karena roti yang diberikan adalah daging Yesus untuk hidup dunia. Yesus menegaskan bahwa yang makan daging dan minum darah Yesus mempunyai hidup yang kekal.Ia tinggal dalam Yesus dan Yesus tinggal dalam dia. Ia bersatu dengan kehidupan Yesus. Diingatkan juga akan pengalaman iman umat Perjanjian Lama mengenai roti yang dimakan nenek moyang mereka.

Untuk mencapai tujuan tanah terjanji, umat Israel memiliki pengalaman iman akan Allah yang menyertai mereka. Mereka keluar dari perbudakan di Mesir untuk mencapai kemerdekaan. Mereka mendapatkan pengalaman padang gurun. Dalam perjalanan itu, mereka mengalami  mendapatkan manna yang menghidupkan. Manna itu berasal dari Surga. Manna  itu jelas menghidupkan untuk mencapai tanah terjanji. Umat Israel mendapatkan bekal hidup. “.

Yesus berbicara soal “daging” dan “darah”. Ia menyebut diri sebagai "anak manusia". Ia juga merujuk pada semua tindakan, amal, kata-kata dan pelayanannya dalam hidupnya sebagai "daging" dan "darah"-nya. Ungkapan ini menunjukkan betapa semuanya itu terpadu dalam kehidupannya. Jadi "daging anak manusia" sama dengan semua yang dijalankan Yesus dan diajarkannya. Dalam hubungan ini "makan" dan "minum" mengungkapkan kesatuan baik dengan yang disantap maupun dengan sesama penyantap. Kesatuan dengan sesama penyantap dibangun dan dikembangkan. Bisa dikatakan, Gereja hidup dan berkembang karean Ekaristi.

Yang ditunjuk adalah diri Yesus, hidupnya, pengabdiannya, ajarannya, apa saja yang dilakukan. Yesus mengajak mereka untuk menerima semua itu sebagai bekal perjalanan manusia menuju hidup abadi. Tetapi sulit bagi mereka untuk mengiakannya. Karena mereka mempunyai tradisi agama yang panjang. Maka menjadi pertanyaan apa yang menjadi dasarnya sampai Yesus menyatakan itu. Bukankah itu adalah klaim sangat besar?

“Sesungguhnya aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging anak manusia  dan minum darahnya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu Barangsiapa makan dagingku dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” Di sini jelas ada jaminan daging dan darah. Tujuannya adalah hidup yang kekal. Ditegaskan bahwa "daging dan darah anak manusia" dapat ikut dihidupkan dan dihidupi tiap orang yang bersedia menerimanya. Yang dimaksud tentunya semua yang dilakukan dan diajarkan Yesus, pengusiran roh jahat, penyembuhan, ungkapan belas kasihnya kepada orang banyak. Inilah yang menjadi awal dari "hidup kekal" yang nanti bakal diperoleh dengan utuh pada akhir zaman.

Perlu diingat bahwa pengajaran Yesus mengenai roti hidup itu ada di rumah ibadat. Dia memberikan “homili” atau aktualisasi apa yang disampaikan. Ingat juga ketika Yesus berada di Sinagoga Nasaret. Setelah membaca dari Kitab Nabi Yesaya, Yesus menegaskan bahwa nubuatnya digenapi dalam diri Yesus.

               Ibadat ekaristi menjadi tindakan sakramental bersatu dengan Yesus. Tindakan ini mengungkapkan tekad mereka untuk saling menunjang dan saling menopang.  Mereka merasa berpikir sejalan, sepengharapan. Ada komunitas. Bagi mereka, kehidupan yang dipelihara dengan ingatan bersama akan Yesus tadi ialah kehidupan yang nanti akan berlanjut tanpa akhir. Mereka sudah mulai menemukan kehadiran ilahi yang tak hanya dibataskan pada perjalanan ke Tanah Terjanji seperti nenek moyang mereka dulu.

              

               Bagi kita saat ini, Yang Maha Kuasa masih memberi makanan dan minuman agar kita dapat menempuh perjalanan hidup. Perjalanan ini penuh unsur yang tak terduga-duga, perjalanan ini penuh harapan tapi yang juga yang sering harus dititi dengan rasa sakit. Kepercayaan akan kebesaran Yang Maha Kuasa akan membuat orang makin tabah. Juga dalam keadaan sulit kita masih "diberi makan dan minum dari langit". Akan diperoleh makanan yang sama, minuman yang sama, kehidupan yang sama yang telah diperoleh Yesus dari atas sana. Itu semua dipakai untuk memperbaiki keadaan, dalam mengatasi kesulitan, dalam saling menguatkan. Solidaritas sakramental ini dapat menjadi kekuatan untuk berjalan terus sampai  ke tempat yang telah dicapai Yesus sendiri!

               Kesatuan hidup dengan Yesus membawa perubahan dan pengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Maka perjumpaan dengan Yesus yang hadir secara tersembunyi dalam hosti anggur membawa tugas untuk tugas mewujudkan berbagi kasih dalam hidup sehari-hari. Juga berkembanglah rasa peka akan penderitaan sesama.

 Tuhan Yesus, semoga kami dapat semakin bersatu denganMu sehingga semakin mengalami kekuatan untuk mencapai hidup kekal.Amin. 

Rm. Wartaya, SJ           

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :