Renungan 12 Agustus 2018: Sukacita


                Madah sukacita dikidungkan sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan. Perbuatan besar Tuhan dialami dan dirasakan. Di situlah pengalaman Rahmat diungkapkan dengan madah sukacita. Pujian kepada Tuhan dilakukan. Di samping itu juga disadari akan adanya kerendahan hamba. Kerendahan hamba ini mengungkapkan penyerahan kepada kehendak Allah.

               Dalam perayaan Bunda Maria diangkat ke Surga ini kita mengingat akan adanya ajaran iman Gereja Katolik mengenai Maria. Pertama, Maria tetap perawan, kedua, Maria mengandung dan melahirkan Tuhan Yesus (kedua ajaran iman ini dari zaman para Bapa Gereja), ketiga, Maria dikandung tanpa noda dosa asal (ajaran iman tahun 1854), keempat, Maria diangkat ke Surga jiwa dan raganya (ajaran iman Gereja Katolik pada tahun 1950).

               Apa yang dirayakan? Kita merayakan pulihnya suasana gembira di Surga, kebesaran Tuhan yang membawa kembali kemanusiaan ke Surga, kemampuan manusia untuk bekerja sama dengan Tuhan. Juga dirayakan bahwa orang yang hidup tulus membiarkan diri dituntun suara batinnya. Kandungan suara batinnya itu menjadi darah daging. Maria ikut terbawa kembali ke Surga oleh Yesus yang dikandungnya. Yesus itu manusia pertama yang bangkit dari kematian dan naik ke Surga. Kegembiraan di surga diisi oleh Yesus dan Maria.

               Apa makna merayakan Bunda Maria yang diangkat ke Surga? Itu dapat menjadi ungkapan kepercayaan akan masa depan kemanusiaan sendiri. Pada suatu saat nanti, umat manusia akan kembali berada bersama dengan Tuhan di Surga. Maria bisa melantarkan doa-doa kita. Dia tahu jalan-jalan menyampaikan doa-doa kita.

               Dalam Luk. 1:39-56, dikisahkan kunjungan Maria kepada Elisabeth. Keduanya sudah mengandung. Ketika berjumpa, bayi yang ada di dalam kandungan Elisabeth melonjak kegirangan. Lalu Elisabeth berseru, “Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu. Siapakah aku ini, maka ibu Tuhanku berkenan melawati aku?...Berbahagialah engkau, sebab engkau telah percaya bahwa Sabda Tuhan kepadamu akan terlaksana”, Itu ungkapan iman yang luar biasa dari Elisabeth. Ungkapan iman itu juga dijawab oleh Maria dengan kidung Magnificat. Di situlah Maria juga mengungkapan iman yang luar biasa.

               Kita bisa belajar bagaimana perjumpaan dua ibu yang sungguh diberkati. Mereka mendapati diri  beruntung. Mereka mengalami perbuatan besar Allah. Di usia yang sudah lanjut, Elisabeth mengandung. Aib besar dihapus. Sukacita dan kebahagiaan dialami oleh Elisabeth. Pengalaman bahwa Allah bertindak sungguh dirasakan. Yang tidak mungkin menjadi mungkin bagi Allah. Perisitiwa ini sekaligus menjadi tanda bagaimana Allah bertindak untuk keselamatan umat manusia. Pasti di luar pemikiran logis manusia. Tidak masuk akal bagi manusia, tetapi sangat mungkin bagi Allah. Itulah juga kesaksian yang menguatkan iman Maria.  

               Perbuatan besar juga dialami oleh Maria. Ketika dia memikirkan bagaimana mungkin dia mengandung, karena masih perawan? Malaikat Gabriel menunjuk kepada peran Roh Kudus. Maria membiarkan Roh berkarya dalam dirinya. Itulah dia Tuhan yang mengubah diri menjadi suara hati manusia. Suara hatinya juga yang mengatakan, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.”

               Karena Roh yang sama, Maria mengidungkan pujian. “Aku mengagungkan Tuhan, hatiku bersukaria karena Allah, penyelamatku. Sebab Ia memperhatikan daku, hambaNya yang hina ini. sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.” Tuhan membuat hidup ini berarti dan bermakna. Ia membuat penderitaan bermakna. Juga terungkap pengakuan bahwa Tuhan menyayangi orang-orang kecil. Mereka menjadi besar di mata orang. Diwartakan kebesaran Tuhan yang tidak takut mendekati orang kecil. Orang kecil bisa memberikan naungan. Ditemukan kembali secercah kegembiraan yang telah hilang.

               Sering ada anggapan bahwa penderitaan, kemelaratan, ketidakadilan dan aib dikenakan sebagai hukuman bagi suatu kesalahan. Juga dianggap bahwa hukuman itu diturunkan. Dosa menurun, Hukuman berkelanjutan. Dalam kidung pujian Maria, anggapan itu tidak diikuti. Ditegaskan bahwa Tuhan membela orang yang percaya kepadaNya yang meminta pertolongan dariNya. Sedang orang-orang yang sudah beruntung dihimbau untuk berbagi keberuntungan. Itulah pelurusan hakikat kehidupan.

               Kepercayaan akan kebesaran Tuhan dapat membuat manusia makin peka dan mencari jalan untuk memperbaiki kemanusiaan. Orang terbuka kepada dimensi ilahi. Itu akan membuat orang makin lurus.

            Tuhan, semoga kami semakin dapat memuji kebesaran Tuhan sehingga kami makin peka akan ketimpangan demi kebaikan kemanusiaan. Amin.

 

Rm. Wartaya, SJ

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :