Renungan Rabu abu, Rabu 14 Februari 2018


Hari ini Gereja Katolik memasuki masa Prapaskah selama empat puluh hari. Dalam masa penuh rahmat ini, segenap anggota Gereja diajak untuk membarui diri dengan bersedekah, berdoa dan berpuasa. 

 Ada satu pesan penting yang disampaikan Yesus kepada para pengikut-Nya yang hendak membarui diri melalui bersedekah, berdoa dan berpuasa, yaitu agar mereka tidak melakukan hal-hal tersebut dengan tujuan untuk pamer agar dilihat orang. Untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan, orang tidak perlu pamer, tetapi melakukan latihan dan pengolahan diri dalam ketersembunyian. "Janganlah kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka." (Mat 6:1.5.16). 

 Nabi Yoel mengingatkan orang Israel agar yang dikoyakkan bukan pakaian melainkan hati. "Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan Allahmu sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setianya." (Yl 2:13). Hati sebagai simbol pusat manusia, hati juga menjadi simbol ketersembunyian. Dalam mengisi masa Prapaskah dengan bersedekah, berdoa dan berpuasa dalam ketersembunyian kita mau memperbaiki hati yang terganggu dan rusak. Hati sebagai pusat relasi manusia dengan diri sendiri, lingkungan, sesama dan Allah. 

 Dengan bersedekah, berpuasa dan berdoa sebagai tanda penyesalan akan dosa dan kesalahan kita sesungguhnya mau mau  berdamai dengan diri sendiri, lingkungan, sesama dan dengan Allah. Rasul Paulus mengingatkan, "Berilah dirimu didamaikan dengan Allah" (2Kor 5:20). Kesadaran untuk memperbaiki diri di hadapan Allah, sesama dan lingkungan merupakan status yang perlu terus-menerus diperbarui. Inilah jalan kemenangan, jalan ketersembunyian. Dengan demikian, tidak hanya apda dinding media sosial kita memperbarui status kita, tetapi yang jauh lebih penting yang harus diperbarui adalah diniding hati dalam ketersembunyian. 

 Seorang pemenang adalah orang yang berhasil memperbaiki hatinya, melalui cara-cara yang sesuai, bukan melalui pamer kebaikan. Dalam ketersembunyian, kita datang kepada Allah karena kita yakin dan percaya ia panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Dengan menekuni ketiga hal tersebut, diharapkan agar kita bisa meraih kemenangan atas diri sendiri, kemenangan untuk menguasai dan mengontrol diri sendiri. Hal yang perlu dipamerkan bukanlah kebaikan diri sendiri melainkan kebaikan Allah yang selalu memberikan kesempatan dan waktu kepada kita untuk datang kepada-Nya, karena Ia sungguh mengasihi kita menurut kasih setia-Nya, dan menghapus pelanggaran kita menurut rahmat-Nya yang besar. 

(GAB/renunganpagi.blogspot.co.id)

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :