PERINGATAN HARI ANTI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN


“Kita semua tahu bagaimana rasanya hidup dalam ketakutan... Sebagaimana dirasakan perempuan dan anak-anak di daerah konflik; perempuan dan anak-anak korban kekerasan politik; perempuan dan anak-anak yang mengalami pelecehan berkelanjutan dan intimidasi, perempuan dan anak-anak yang mengalami eksploitasi dalam keluarga atau ruang domestik maupun publik; perempuan dan anak-anak korban ketidaksetaraan: tidak bisa melanjutkan pendidikan, akses kesehatan yang sulit.....”


Refleksi tentang situasi di atas mungkin sering kita dengar, berita-berita juga terbaca, bahkan bisa saja kita justru sebagai saksi yang melihat atau mendengarkan langsung berbagai bentuk kekerasan tersebut -- seiring dengan meningkatnya statistik kekerasan1 dan semakin beragamnya bentuk pelanggaran martabat perempuan dan anak-anak. Namun di luar itu semua, juga masih banyak sekali cerita dan tangisan yang tersimpan dalam diam, tak terdengar dan tak tersampaikan.


Dengan tonggak tanggal 25 November, sebagai peringatan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, kita bisa meletakkan sebuah tekad tanpa keraguan untuk mengambil peran memutus situasi ini.


Tahta Suci Vatikan mempunyai pandangan khusus mengenai pentingnya perlindungan untuk perempuan dan anak-anak. Utusan resmi Tahta Suci Vatikan untuk Organisasi Keamanan dan Kerjasama di Eropa (Organization for Security and Cooperation in Europe/OSCE), Mgr. Janusz Urbanczyk pada 10 Maret 2016 secara resmi menyampaikan bahwa Tahta Suci Vatikan sangat memperhatikan perempuan yang didiskriminasikan atau dinilai rendah berdasarkan jender mereka, dan akan terus bekerjasama dengan para pemangku kepentingan untuk mempromosikan budaya yang mengakui serta menghormati martabat setara yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki baik secara hukum maupun dalam realitas nyata. Kesetaraan jender yang autentik yang didasarkan pada penghapusan stereotif dan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan sungguh perlu diperjuangkan.


Paus Yohanes Paulus II dalam surat Apostolik nya – Mulieris Dignitatem (1988) menegaskan bahwa dalam sepanjang perjalanan misi Yesus dari Nazareth saat bertemu dengan banyak perempuan, keseluruhan kata-kata dan sikap Yesus sangat jelas serta dalam bagi penghormatan martabat sejati perempuan dan panggilan yang sesuai dengan martabat itu. Sebuah sikap yang nampak sederhana namun didasari alasan yang luar biasa (Mat. 21:31; Luk. 7:37-47; Yoh. 4:27).2


Landasan lain sangat jelas. Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) 369 , Pria dan wanita diciptakan, artinya, dikehendaki Allah dalam persamaan yang sempurna di satu pihak sebagai pribadi manusia dan di lain pihak dalam kepriaan dan kewanitaannya. "Kepriaan" dan "kewanitaan" adalah sesuatu yang baik dan dikehendaki Allah: keduanya, pria dan wanita, memiliki martabat yang tidak dapat hilang, yang diberi kepada mereka langsung oleh Allah, Penciptanya (Bdk Kej 2:7-22). Keduanya, pria dan wanita, bermartabat sama "menurut citra Allah". Dalam kepriaan dan kewanitaannya mereka mencerminkan kebijaksanaan dan kebaikan Pencipta. KGK 2334, “Ketika menciptakan manusia sebagai pria dan wanita, Allah menganugerahkan kepada pria dan wanita martabat pribadi yang sama dan memberi mereka hak-hak serta tanggung jawab yang khas” (FC 22,Bdk. GS 49,2).


Tahun ini, bersama dengan ajakan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengambil tema kampanye Internasional Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan 2017 “Jangan tinggalkan seorangpun: Hentikan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak-Anak”. Kita memperbaharui komitmen bagi terwujudnya dunia yang bebas dari kekerasan terhadap seluruh perempuan dan anak-anak di belahan bumi manapun, dan juga menjangkau mereka yang paling tidak terlayani, terpinggirkan, termasuk pengungsi, kaum migran, kelompok minoritas, masyarakat adat, dan populasi yang terkena dampak konflik dan bencana alam, sebagai bagian yang utama.

Dengan tanggung jawab yang unik dan bahkan suci, kita dipanggil sesuai dengan kapasitas kita untuk menghentikan berbagai bentuk pelanggaran martabat perempuan dan anak-anak. Situasi yang menunggu tindakan yang cepat, berani, dan arif.

Sebagai individu maupun kolektif, kita memiliki keutamaan-keutamaan untuk menguatkan niat dan tindakan kita, yaitu:

? Kasih, yang merupakan contoh dan ajaran utama Yesus Kristus;
? Nilai alkitabiah untuk menghormati kehidupan, perdamaian, keadilan, dan masyarakat;
? Ajaran-ajaran tentang kehidupan manusia dan martabat manusia, tentang keluarga dan pekerjaan, keadilan dan perdamaian, tentang hak dan tanggung jawab;
? Tradisi doa, sakramen, dan kontemplasi kita yang dapat menuntun pada perlucutan kekerasan dari dalam hati kita dan pada lingkungan sekitar kita;
? Komitmen dan penghayatan terhadap kehidupan pernikahan dan keluarga, kesadaran sebagai orang tua yang bertanggung jawab dalam memberikan nilai kehidupan kepada anak-anak mereka;
? Kepekaan dan kerangka etika yang memanggil kita untuk mempraktikkan serta mempromosikan kebajikan, tanggung jawab, pengampunan, kemurahan hati, perhatian orang lain, keadilan sosial, dan keadilan ekonomi.


Dalam bentuk-bentuk yang sederhana, niat kita dapat dikonkritkan melalui tindakan-tindakan berikut ini:
? mempromosikan secara terus menerus ajaran, nilai dan budaya yang menjunjung tinggi martabat dan kemanusiaan, setara yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki – di dalam rumah, di sekolah, lingkungan, paroki, dunia pekerjaan, lingkungan sosial;
? Hadir di tempat-tempat yang merupakan sumber-sumber harapan dan kehidupan: rumah sakit, rumah singgah, layanan-layanan sosial;
? Membuat daftar kontak lembaga atau individu yang dapat memberikan bantuan jika terjadi tindak kekerasan kepada perempuan dan anak-anak;
? Pilihan-pilihan tindakan atau aksi lain

Kemajuan penghormatan terhadap martabat perempuan dan anak-anak yang melekat, sekaligus mengakui kemanusiaan mereka tidak lah hanya sebatas pada renungan-renungan dan kampanye, tetapi harus nyata. Kita bisa riil mendukung dan berkontribusi untuk itu.

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :