Renungan Kamis Putih 13 April 2017


Ketika Tuhan “berjalan melewati”

Bacaan I menjelaskan makna Paskah yang pertama kali dirayakan oleh orang Israel. Kata Paskah memiliki akar kata ‘psh’ dari rumpun bahasa Semit (termasuk bahasa Arab, Ugarit, dan Ibrani) yang berarti “berjalan melewati.”

Melalui ritual Paskah ini kelak umat Israel akan mengenang kejadian yang begitu penting di dalam sejarah mereka ketika Tuhan menyelamatkan (“berjalan melewati”) mereka dari perbudakan di Mesir. Peristiwa ini merayakan klimaks pembebasan umat Israel, yaitu ketika Tuhan memberikan tulah kesepuluh berupa kematian anak sulung semua keluarga Mesir kecuali di dalam rumah tangga Israel. Perayaan ini berupa pengurbanan domba yang darahnya dibubuhkan pada pintu rumah orang Israel, supaya mereka terhindar dari kematian anak sulung (ayat 7,12,13). Domba tersebut lalu dipanggang dan dimakan dengan roti tidak beragi dan sayur-sayuran pahit. Mereka harus memakannya dengan berpakaian lengkap untuk bepergian. Hal ini menunjukkan ketergesaan dan kesiapan untuk meninggalkan Mesir. Nanti ketika perayaan ini diulang, perayaan ini harus dilanjutkan dengan perayaan hari roti tidak beragi selama seminggu penuh. Umat Israel diperintahkan untuk melakukan kembali secara dramatis apa yang telah terjadi pada waktu itu di Mesir. Dengan mengenang peristiwa ini berarti mereka akan selalu mengingat kasih Allah kepada mereka di dalam sejarah keselamatan orang Israel.

Peristiwa Paskah ini merupakan suatu cara untuk mengingatkan umat Israel di Mesir dan keturunan mereka bahwa Allah betul-betul hadir, menghukum orang-orang Mesir, dan menyelamatkan umat Israel. Allah menjadi nyata di dalam peristiwa ini. Demikian juga di dalam Yesus Kristus, kehadiran Allah nyata. Di dalam Yesus Kristus Allah hadir di dalam hati orang-orang yang memercayai Dia. Kristuslah domba Paskah yang menebus dosa manusia (Yoh 1:29).

Renungkan: Tuhan Yesus telah membayar dan menghapus dosa-dosa kita. Ia telah menjadi domba Paskah bagi kita.

Bacaan II, St. Paulus melihat Anak Domba sebagai simbol kehadiran Kristus yang nyata di dalam Gereja. Kita semua mengingat seruan Yohanes Pembaptis: “Lihatlah Anak Domba Allah” (Yoh 1:29.36). Yesus adalah Anak Domba Allah yang mempersembahkan diriNya satu kali untuk selama-lamanya. Selanjutnya, Yesus adalah Imam Agung “yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.” (Ibr 7:27; 9:12; 10:10).

Apa yang dilakukan Yesus pada malam perjamuan terakhir? St. Paulus mengingatkan jemaat di Korintus bahwa pada malam perjamuan terakhir Tuhan Yesus berekaristi bersama para murid-Nya. Pada waktu itu ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkan roti dan membagikannya kepada para murid-Nya. Ia berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (1Kor 11:24). Tuhan Yesus juga mengambil cawan, mengucap syukur dan memberikanya kepada para muridNya. Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” (1Kor 11:25). Paulus akhirnya menegaskan:“Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.” (1Kor 11:26).

Injil hari ini, Cinta Kasih Allah, tidak terbatas

Penginjil Yohanes bersaksi bahwa perjamuan malam terakhir bagi Yesus adalah tanda Ia mengasihi para murid-Nya sampai kepada kesudahannya. Ia mengasihi mereka sampai tuntas! (Yoh 13:1). Ia sendiri tahu bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepadaNya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah (Yoh 13:3). Wujud kasih-Nya adalah dengan memberi diri-Nya secara total, Tubuh dan Darah-Nya bagi keselamatan manusia. Ini adalah kasih sempurna dari Tuhan Yesus bagi manusia.

Wujud kasih sempurna-Nya adalah dengan berlutut di depan para murid-Nya dan membasuh kaki mereka. Yesus mengetahui kelebihan dan kekurangan para muridNya tetapi Ia sebagai Tuhan rela melupakan dosa-dosa manusia dan menguduskan mereka melalui pembasuhan kaki. Pembasuhan kaki juga menjadi model pelayanan tanpa pamrih dari Tuhan Yesus bagi manusia. Tuhan saja rela melayani manusia, karena untuk itulah Ia datang ke dunia. Setelah membasuh kaki para murid-Nya, Yesus berkata: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh 13:12-15). Yesus tidak hanya berbicara tetapi melakukan pelayanan kasih yang nyata dan pengampunan yang melimpah bagi umat manusia.

Buah-buah rohani dalam perayaan Ekaristi hari Kamis Putih adalah:

Pertama, Tuhan Yesus mengajak kita untuk saling melayani satu sama lain. Tuhan Yesus sendiri mangatakan bahwa Ia datang ke dunia bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani (Mat 20:28). Untuk bisa melayani dengan baik maka di dalam hati kita harus ada semangat mengabdi. Harus ada hati sebagai hamba yang setia melayani. St. Paulus mengatakan bahwa Tuhan Yesus“walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Flp 2:6-8). St. Petrus berkata: “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” (1Ptr 4:10).

Kedua, kita semua dipanggil oleh Tuhan untuk saling berbagi. Tuhan berbagi dengan manusia secara simbolik ketika Ia mengambil roti yang satu dan sama dan anggur, mengucap syukur, memberkati, memecah-memecahkan roti dan membagikannya kepada para murid-Nya.Tindakan simbolis memecah-mecahkan roti dan membagikannya merupakan pengajaran Yesus bagi kita untuk berbagi. Berbagi menjadi sempurna ketika Yesus memnyerahkan tubuhNya dan menumpahkan darah-Nya. Yesus berbagi dengan menyerahkan diri-Nya. Apakah kita juga memiliki kesempatan untuk berbagi dengan sesama? Apakah kita juga peduli dengan sesama manusia?

Ketiga, kasih itu segalanya. Caritas vincit omnia, cinta kasih itu memenangkan segalanya. Tuhan Yesus melayani manusia, Tuhan Yesus berbagi dengan manusia meruoakan dua hal yang menggambarkan kasih Yesus bagi manusia. Cinta kasih Yesus Kristus telah memenangkan hati manusia supaya menyatu dengan-Nya. Dialah sumber dan asal segala cinta kasih karena Dialah kasih yang sempurna (1Yoh 4:8.16). Tuhan Yesus juga memberi perintah baru supaya kita saling mengasihi karena Ia lebih dahulu mengasihi kita (Yoh 13:34).

Hari ini adalah hari baru untuk mengasihi dan melayani dengan sungguh. Kita belajar dari Tuhan yang mengasihi semua orang tanpa memandang apakah orang itu baik atau jahat. Cinta kasih Tuhan itu universal. Sebagai akhir renungan ini kita resapkan arti cintakasih  yang ditulis St. Paulus sebagai berikut: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.” (1Kor 13:4-8). (RBP/www.margonolucas.wordpress.com)

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :