[Renungan 17 Mei 2015] Hari Komsos Sedunia


Hari ini kita merayakan Hari Komunikasi Sosial (Komsos) Sedunia 2015, perayaan gerejawi yang diamanatkan oleh Konsili Vatikan II (Dekrit tentang Komsos no. 18). Tema yang diangkat adalah “Komunikasi dalam Keluarga: Tempat Istimewa Menemukan Keindahan Kasih”. Tema ini erat berhubungan dengan tema pada Hari Komsos 2014, “Komunikasi: Budaya Perjumpaan yang Sejati”.

Dengan memilih tema komunikasi dalam keluarga, dapat diandaikan Paus Fransiskus ingin menghubungkan perayaan ini dengan Sinode Luar Biasa III pada Oktober 2014 dengan tema “Tantangan-tantangan Keluarga dalam Konteks Evangelisasi”. Dan, juga dengan Sinode Biasa XIV yang akan dilaksanakan pada Oktober 2015 dengan tema “Panggilan dan Perutusan Keluarga dalam Gereja dan Dunia Masa Kini”.

Mengapa Paus Fransiskus, melalui tema-tema yang dipilihnya, memberi perhatian amat besar bagi keluarga? Di satu pihak, keluarga punya panggilan dan perutusan yang amat penting dalam Gereja dan masyarakat pada umumnya. Dikatakan misalnya, “Keluarga menerima perutusan dari Allah, untuk menjadi sel pertama dan sangat penting bagi masyarakat” (Dekrit tentang Kerasulan Awam no. 11; bdk. Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini no. 48, 52). Di lain pihak, Paus menyadari betul, “keluarga sedang mengalami krisis budaya mendalam, sama seperti semua paguyuban dan hubungan- hubungan sosial masyarakat. Dalam hal keluarga, kerapuhan hubungan nampak amat serius, karena keluarga merupakan sel masyarakat yang dasariah” (Surat Apostolik Evangelii Gaudium no. 66).

Dalam konteks ini, tema Hari Komsos Sedunia 2015 menjadi amat relevan. “Komunikasi dalam Keluarga: Tempat Istimewa Menemukan Keindahan Kasih”. Pertanyaannya, keindahan kasih seperti apa yang akan ditemukan?

Jawabannya kita temukan dalam 1Yoh 4:16 (Bacaan II) yang menegaskan, Allah adalah Kasih dan kita harus berada di dalam kasih itu. Dalam bahasa asli Kitab Suci, ada tiga kata berbeda yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan kata yang sama “kasih”. Yang pertama adalah eros, untuk menyebut kasih antara wanita dan pria; keduaadalah philia, untuk menyebut kasih persahabatan; ketiga adalah agape, untuk menyebut kasih ilahi. Kata agape inilah yang dipakai untuk menyebut Allah adalah Kasih. Yesus berdoa agar kita semua menjadi satu dalam kasih ilahi ini (Yoh 17:11). Kasih seperti ini “bukan dari dunia” (Yoh 17:14.16) tetapi harus dijelmakan oleh semua pengikut Kristus pada umumnya dan keluarga pada khususnya “ke dalam dunia” (Yoh 17:18). Penjelmaan kasih itu dapat dan diharapkan terjadi dalam komunikasi, antara lain dalam keluarga.

Pesan Paus untuk Hari Komsos Sedunia 2015 menampilkan perjumpaan dan komuniasi antara Maria dan Elisabeth yang dikisahkan dalam Luk 1:39-56. Tanggapan pertama terhadap sapaan salam dari Maria datang dari anak di dalam rahim Elisabeth. Anak itu melompat kegirangan. Inilah buah dari komunikasi yang sejati: kegirangan, sukacita yang penuh (bdk. Yoh 17:13). Selanjutnya komunikasi yang sejati itu meneguhkan peran masing- masing kedua wanita itu dalam rencana penyelamatan Allah: Elisabeth melahirkan Yohanes Pembaptis dan Maria menjadi Ibu Sang Penebus. Sukacita penuh yang merupakan buah komunikasi diungkapkan Maria dalam kidung Magnificat, yang menyusul kisah perjumpaan kedua wanita sejati itu.

Namun komunikasi kasih pun bisa meleset. Komunikasi kasih yang meleset ini dapat kita lihat dalam dialog antara Yesus dan Petrus pada akhir Injil Yohanes. Yesus bertanya, “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” (Yoh 21:15). Yesus menggunakan kata agape untuk kasih. Lalu Simon menjawab, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh 21:15). Simon menggunakan kata philia untuk kasih. Begitu selanjutnya komunikasi antara Yesus dan Simon itu meleset, tidak sambung.

Begitulah dalam hidup kita sehari-hari, komunikasi (dalam keluarga) dapat meneguhkan, mengarahkan, berbuah kegembiraan. Komunikasi (dalam keluarga) juga dapat meleset dan menimbulkan luka. Demikianlah keluarga seharusnya menjadi tempat di mana kasih dirayakan, sekaligus tempat di mana luka-luka dibalut. Membalut luka pun dapat dihayati sebagai perayaan kasih. Semoga Tuhan menyucikan sarana komunikasi kita yang utama –mulut kita– untuk mengkomunikasikan berkat, bukan sebaliknya. (RBP/hidupkatolik.com)

 

 

 

 

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :