[Renungan 18 April 2015] Gelombang Kehidupan


Gelombang Kehidupan - Foto : www.mirifica.net/

(Kis 6: 1-7;Injil:  Yoh 6: 16-21)

HIDUP manusia sering disebut sebagai perjalanan, peziarahan dan pelayaran. Sebagai perjalanan berarti berangkat dari suatu tempat dan menuju ke suatu tempat tertentu. Perjalanan itu seringkali menghadapi banyak kesulitan, kelelahan, kekhawatiran, ketakutan karena sakit, macet, keamanan di jalan, kecelakaan, cuaca, angin badai, ombak dan macam-macam kebutuhan lain dalam perjalanan. Demikian juga perjalanan hidup manusia. Perjalanan hidup manusia sering diwarnai banyak kekhawatiran dan ketakutan oleh macam-macam hal seperti masalah pemenuhan kebutuhan pokok, penyakit, kejahatan, dll. Di tengah masyarakat sekarang ini banyak situasi yang membawa kekhawatiran dan ketakutan kepada manusia, seperti harga barang kebutuhan pokok mahal, BBM mahal, gas mahal, belum lagi ancaman narkoba, begal dan tindak kejahatan lain yang semakin marak. Banyak pihak bertikai oleh macam-macam kepentingan diri. Hari-hari ini di media massa kita melihat, mendengar dan membaca adanya pertengkaran para pihak yang seharusnya menjadi pembawa kedamaian hidup masyarakat. Ada pula sekelompok  orang menyebar teror, menganiaya dan membunuh manusia lain, yang anehnya diatasnamakan pada agama (dan bahkan Allah). Kehidupan manusia penuh dengan kerikil, lembah dan gunung, kemacetan, badai, gelombang, dll. Lalu dari siapa dan ke mana kita mencari dan menemukan kekuatan dan perlindungan keamanan hidup?

Para Rasul yang sedang berlayar mengalami ketakutan besar karena gelora laut yang melanda mereka. Dalam keadaan  itu, Yesus datang menjumpai mereka dan bahkan naik di atas perahu mereka dan menemani mereka dalam perjalanan sampai ke tempat tujuan, “Aku ini, jangan takut”, kata Yesus. Para Rasul menjadi tenang dan perjalanan mereka lancar dan aman tanpa hambatan sampai ke pantai yang mereka tujui.

Kehadiran Tuhan dalam perjalanan hidup, dalam rumah tangga, dalam pekerjaan kita dan dalam hidup bersama membawa ketenangan dan kedamaian serta kekuatan untuk menghadapi berbagai gelombang kehidupan kita. Selanjutnya perjalan hidup bersama semakin tenang dan damai jika kita saling membantu, saling memberi perhatian dan saling melayani. Para Rasul tidak puas ketika pelayanan mereka tidak mampu menjangkau banyak orang. Maka mereka mengajak semakin banyak orang untuk terlibat dalam pelayanan satu sama lain, “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu”. Mari kita melibatkan diri untuk saling memberi bantuan menghadapi gelombang kehidupan. (RBP/www.mirifica.net)

 

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :