Sepangkeng Kisah Gereja Katolik Kampung Sawah (10)


Bapak Johannes Pepe - Foto : Istimewa

Misa Kudus Pertama di Bekasi

Tanggal 20 Juni 1950 adalah tanggal yang patut dicatat. Hari itu Romo Soerjo bersama Guru Tjiploen dan Guru Petrus Seran beserta Yohanes Pepe yang membonceng sebagai putra altar, naik sepeda lewat Pekayon ke Bekasi untuk merayakan Ekaristi Kudus di rumah panggung Elias Oyan di Kampung Cerewet, yang kemudian ganti nama menjadi Duren Jaya. Ujud Misa Kudus yang pertama di daerah Bekasi ini, ialah agar kelak nama Yesus Kristus akan makin dikenal di antara masyarakat Bekasi. (Setengah abad kemudian, 10 umat yang ikut Misa Kudus pertama tersebut telah ikut mengembangkan Bekasi menjadi beberapa paroki). 

Gembala yang Datang dan Pergi

“Pergi belanja ke Pasar Ciawi
Janganlah lupa beli sayuran
Biarin gereja kita di pinggiran Betawi
Tapi umatnya tidak ketinggalan zaman.”[20]

Pada tahun ini pula, Pastor Soerjo sempat kedatangan Bapak Wedana dari Bekasi dan Asisten Wedana dari Pondok Gede, yaitu Tabrani. Mereka ingin berkenalan dengan Pastor Soerjo. Kunjungan mereka begitu membahagiakan Pastor Soerjo yang sesungguhnya tahu perilaku masa lalu sang Asisten Wedana. Menjelang Natal tahun 1950 Monseigneur Willekens berkunjung ke Kampung Sawah lagi, saat hujan deras, untuk memberkati gereja yang selesai dipugar sekaligus memberikan Sakramen Krisma kepada 39 warga paroki.

Pada tahun 1951, Pastor Soerjomoerdjito meninggalkan paroki Kampung Sawah dan untuk sementara waktu digantikan oleh Pastor Eutachius Djajaatmadja, S.J. Kemudian beliau digantikan lagi oleh Pastor Leonardus Daroewenda, S.J. Pastor Daroe kerap mencatat pengalamannya berada di Kampung Sawah. Seperti ini, “Bila tidak licin dan lecat, jeblok dan becek, sepeda itu praktis untuk misionaris muda dan kuat. Acapkali sepedalah yang ‘naik’ orang, bila hujan dan licin lecat itu.” Keadaan Kampung Sawah saat ini belum aman. Rumah-rumah masih banyak yang kosong, mencekam. Pastor Daroe sendiri pernah dicegat di Bulakkapal dekat Cililitan, diancam, bahkan digebukin. Di masa penggembalaan Pastor Daroe, pada tanggal 8 Mei 1951, Bapak Benyamin Kadiman, tokoh kuat Kampung Sawah meninggal dunia.

Dalam tugasnya, Pastor Daroe dibantu oleh Bapak Marius Mariatmadja, seorang bekas frater Yesuit  berusia 47 tahun (yang kemudian menjadi Romo) , yang biasa dipanggil Pak Mario .Sekolah Dasar Strada berkembang di bawah pimpinan Bapak Mario, bahkan ditambah dengan SGB atau Sekolah Guru B.

Dari segi iman, Bapak Marius Mariaatmaja, yang lazim juga disapa Bapak Mario, giat mengajar agama di sekolah-sekolah dan berkeliling di seluruh wilayah paroki. “Pada masa ini, “kenang Bapak Yulius Sastra Noron, “Telah ada kegiatan sembahyangan di kring-kring (lingkungan).”

Bapak Marius, atau biasa dipanggil Bapak Mario juga dikenal terampil menghidupkan kegiatan ekonomi di Kampung Sawah.

“Beliau juga ikut merintis koperasi yang tak hanya diperuntukkan umat Katolik, namun juga umat beragama lain, “ungkap Bapak Yulius Sastra Noron. “Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan adanya peketan, yaitu kegiatan permufakatan yang tidak pandang agama, yang wilayah kegiatannya melingkupi juga wilayah Pedurenan dan Rawa Bacang.”

Tahun 1969 datanglah para suster Ursulin membantu pastor menggembalakan umat Kampung Sawah. Mulai saat itu SMP Strada Kampung Sawah dikepalai oleh suster dari biara Ursulin itu.

Bapak Mario Menjadi Pastor Mario
Bapak Mario yang dulu sudah mengikuti studi menjadi imam tapi gagal, pernah memohon kepada Monseigneur Djajaseputra agar boleh ditahbiskan sekalipun sudah lanjut usia. Permintaan itu ditolak. Pada tahun 1970, Monseigneur Leo Soekoto, SJ menjabat sebagai Uskup Agung Jakarta. Pak Mario, usianya sudah 60 tahun, mengajukan permohonan sekali lagi. Kali ini dikabulkan. Tanggal 12 September 1971, Bapa Marius Mariatmadja, ditahbiskan menjadi imam projo di tengah umatnya di Gereja Kampung Sawah, pada usia 60 tahun. Umat Katolik Kampung Sawah sungguh berbahagia menyambut gembala mereka yang selama ini telah mendampingi mereka selama 20 tahun. 

Kehandalan Pastor Mario dirasakan oleh semua umatnya, termasuk anak-anak. Bapak Yepta Noron mengaku, “Waktu masih anak-anak saya sering diajak ayah untuk ikut menjaga gereja, maka saya sering bertemu dengan beliau. Saya diajari banyak hal. Pastor Mario sangat perhatian terhadap umatnya. Pastor Mario juga berani melayani umat Katolik Kampung Sawah yang pada waktu itu menghadapi situasi yang sangat membahayakan. “

Sebagai imam, Pastor Mario tak bisa berkarya terlalu lama. Pada tanggal 3 Oktober 1972, ia dipanggil Tuhan. Untuk mengenang kehandalannya menuntun dan membina umat Katolik Kampung Sawah, dibuatlah bangunan khusus di Pemakaman Katolik Kampung Sawah. Selain itu, berbeda dengan paroki lain yang memakai Yayasan Santo Yusuf untuk mengurusi kematian dan pemakaman umat, maka Kampung Sawah memakai namanya, Marius.

Setelah wafatnya, dua pastoran, Kampung Sawah dan Cililitan pun lowong. Sebagai tindakan darurat, pimpinan Serikat Yesus mengutus Romo Brotosoeganda, S.J. Namun, belum sampai 10 hari bertugas, ia pun dipanggil Tuhan pada 13 Oktober 1972.


Sakramen Krisma di Kampung Sawah

Tahun 1954, Pastor Daroewenda menyelesaikan tugasnya di Kampung Sawah dan digantikan oleh Pastor Suitbertus Bratasoeganda, S.J, pastor yang menetap di Paroki Theresia dan berkunjung ke Kampung Sawah setiap Minggu pertama dan ketiga setiap bulan. Saat itu pula, Monseigneur Willekens mengakhiri tugasnya sebagai Vikaris Apostolik Jakarta dan digantikan oleh Monseigneur Djajasepoetra. Sang monseigneur baru ini bersedia datang ke Kampung Sawah dan menerimakan Sakramen Krisma kepada 21 anak pada 17 Oktober 1954. Malam sebelum perayaan ini, hujan lebat mengguyur Kampung Sawah, akibatnya monseigneur datang terlambat naik jeep. Yang “membahagiakan” umat membludak, sampai hostinya kurang.

Pastor Broto harus melayani banyak kalangan, di antaranya sebagai pastor tentara, maka kerap ia datang ke Kampung Sawah masih menggunakan seragam tentara. Namun pada tanggal 17 November 1957 ada gerombolan lagi yang menyerang dan merampok kampung-kampung. Pak Marius sempat diseret-seret, dihajar, lalu diikat dan ditinggalkan penuh luka. Syukur, ia selamat. 

Pada tahun 1960 unit Melania Kampung Sawah dikembalikan Rumah Sakit St Carolus kepada Yayasan Melania Jakarta. Usaha kesehatan pun dirintis lagi. Pastor Broto berkarya di Kampung Sawah sampai tahun 1963. Beliau digantikan oleh Pastor Robertus Bakker, S.J.

Umat Kampung Sawah Bantu Dirikan Gereja Cililitan

Tugas Pastor Bakker adalah pastor pembantu di Bidara Cina, namun ia menjadi pastor kepala di Paroki Kampung Sawah. Pastor Bakker kemudian mendirikan paroki baru di Cililitan. Pastor Bakker pun menyerukan kepada umat Kampung Sawah untuk membantu mendirikan Gereja Cililitan. Mereka diminta mengangku batu-batu wadas yang digali di tanah-tanah Nawar[21] di antara Kampung Sawah dan Kranggan. Pastor Bakker mampu secara adil membagi perhatian ke Paroki Cililitan dan Paroki Kampung Sawah..

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :