Sepangkeng Kisah Gereja Katolik Kampung Sawah (9)


Daerah Kramat Tempo Doeloe - Foto : Istimewa

Mengungsi ke Kramat

Karena pelbagai intimidasi dan rasa takut ini, sejumlah warga Kristen, pada akhir bulan Oktober, mengungsi ke Jakarta. Umat Katolik disambut di kompleks gereja Kramat dan ditampung selama satu sampai tiga tahun di asrama Santo Yusuf, asuhan pastor-pastor Fransiskan. Ada juga yang berlindung di pekarangan Gereja Katedral dan di Pastoran Jatinegara. Ada pula yang di rumah saudara. Untuk anak-anak dari Kampung Sawah, malah didirikan sebuah sekolah baru di Kramat, yang mulai dikunjungi juga oleh anak-anak dari kampung-kampung di sekitarnya.

“Ada banyak anak yang ikut orang tuanya hijrah ke Kramat 134. Saya pun sempat menerima komuni pertama di sana,” kenang Bapak Barnabas Eddy Pepe. “Dari anak-anak itu, 12 orang dikirim ke Sukabumi untuk dijadikan pelayan dan kegiatan gereja. Mereka disebut sebagai anak-anak Kampung Sawah!”

Tak lama kemudian, umat pun satu-persatu kembali ke Kampung Sawah.

Kesengsem ama sayur gabus bikin ati ngerawa[11] 
Beningnya kembengan[12], ngajak tanggok dan tolok[13] nguyur [14]ngejabrug[15],
tenggakan ikan bikin gatel masang teger[16].
Hhmm kangen Kampung Sawah
sama kangennya ama sayur bekasem[17] dan pecak betok.[18]

“Mentari-Mentari, nyaringin gogolio gua. Kalo lu nyaringin gua kasih minyak sekompan…”[19]

Ternyata Tuhan selalu melindungi umatNya. Setelah keadaan tenang, Pastor Voogdt yang dibantu oleh Pak Yakub Dwidjowiratno, diutus oleh Monsigneur Willekens untuk “membangun” kembali Kampung Sawah dengan mengadakan pengobatan bagi warga, jasmani maupun rohani. 


Pada akhir tahun 1946, sudah terkumpul kembali lebih dari 90 warga Katolik di Kampung Sawah. Sinar mentari bercahaya lagi. Ia tak sekadar membantu anak-anak Kampung Sawah membuat nyaring mainan gogolionya, tapi juga menerangi semangat baru menggereja umat Katolik Kampung Sawah. Di tahun yang sama, tanggal 8 Desember, sekolah pertama di Kampung Sawah setelah zaman Jepang dibuka lagi oleh Guru Yakub Dwidjowiratno. Setahun kemudian ia diganti oleh Aloysius Entong Liem Tiong Lan, putra Kampung Sawah lulusan Normaalschool Tomohon.

Pada tahun 1949, Pastor Fransiscus Soerjomoerdjito, Pr menggantikan Pastor Voogdt. Sambil berkenalan dengan umatnya, pastor berusia 27 tahun ini merenovasi pastoran dan gereja yang rusak. Saat renovasi, Pastor Surjo tinggal di Poliklinik Melania. Katekis pada waktu itu adalah Pak Boeng. Situasi di Kampung Sawah masih rawan. Berulangkali gelap malam dikejutkan oleh suara tembakan beruntun. Pastoran selesai pada 23 April 1950. Saat itu, jumlah umat Katolik yang sudah kembali menetap di Kampung Sawah berjumlah 200 orang, yang 60 orang di antaranya setiap Minggu datang untuk merayakan “Ekaristi Kudus” di gereja.

Satu bulan kemudian diselenggarakan pelantikan Pengurus Gereja dan Dana Papa (PGDP) pertama di Kampung Sawah yang terdiri dari 5 orang. Pastor Soerjomoerdjito sebagai ketua dan bendahara, Bapak Yosef Tjiploen selaku sekretaris, Lewi Noron, William Kadiman dan Nias Pepe sebagai anggota.

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :