Ngelajo


Pulang Nglajo - Foto : Istimewa

Ujan udah mulain jarang turun. Sawah-sawah di Kampung Sawah yang subur udah berubah jadi taburan emas, lantaran padi dah tua dan udah berubah warna jadi kuning keemasan. Para pemilik sawah (petani) perasaannya lega, panen segera datang. Bentangan sawah yang lega yang hanya dimiliki oleh beberapa orang kaya, adalah anugerah dan berkat dari Yang Maha Pengasih bagi masyarakat di Kampung Sawah, bahkan bagi kampung-kampung lain di sekitar Kampung Sawah.

Di musim panen atau biasa disebut musim motong, pemilik sawah yang berhektar-hektar tak akan mampu menangani  memotong padi) di semua sawah miliknya. Karena keterbatasan tenaga untuk memotong padi dan mengangkutnya sampe ke rumah. Pemilik sawah punya cara buat ngatasin kesulitannya. Siapa aja boleh ngikut motong, kaga pake ngedaptar, kaga pake ngantri. Nyang pentng mau motong padi, ngangkut ke rumah pemilik sawah. Terus apa untungnya ngikut motong kaya gini?

Nah, mereka yang ngikut motong akan dapet bagian sperlima dari jumlah nyang didapat setiap orang. Sistem ini biasa disebut dengan “nderepin’. Sistem yang umum digunakan oleh penduduk saat panen. Sistem nderepin (diderepin) dalam memanen padi menjadi daya tarik tersendiri bagi penduduk yang tersebar di sekitar Kampung Sawah. Apalagi sebagian besar penduduk tidak memiliki sawah dan keadaan ekonomi yang sulit saat itu – bahkan bisa dibilang banyak penduduk yang hidup dengan mengharapkan kemurahan kemurahan alam. Sehingga mulai dari remaja hingga orangtua baik lakilaki maupun perempuan siap untuk ikut motong padi yang diderepin. Menariknya sistem ini, serta keadaan ekonomi yang lumayan sulit makan setiap musim motong tiba banyak orang yang siap memotong padi di sawah yang diderepin.

Mereka rata-rata udah ngelengkepin dirinya dengan peralatan buat motong dan ngangkut hasil ke rumah pemilik padi. Lantaran jadwal motong padi kaga pernah jelas, tergantung mud pemilik sawah, maka para pemotong harus siapa setiap saat. Keseipan mereka dilakukan dengan berada di sekitar sawah yang [adinya sudah ranum. Beberapa orang dalam kelompok- kelompok kecil, terlihat berjalan sambil memandang dari hamparan sawah yang satu ke hamparan sawah lain.

Mereka berjalan dari kampung ke kampung. Kegiatan ini disebut ngelajo. Mereka biasa disebut orang nglajo. Di pagi buta saat embun pagi masih melekat di rerumputan, ketika ayam jantan baru mengepakkan sayap dan menegangkan urat leher, puluhan orang laki-laki dan perempuan berjalan kaki melintasi pematang dan jalan-jalan setapak. Langkah mereka penuh semangat, penuh harapan. Padi yang menguning merunduk nyang nandain sudah saatnya padi tersebut dipanen inilah harapan para pelajo. Para pelajo datang dari berbagai kampung yang ada di sekitar Kampung Sawah.

Perjalanan para pelajo bisa memakan waktu seharian, mereka baru pulang ketika sore. Untuk melakukan ini banyak di antara mereka yang membawa bekel untu menambah enerji saat mereka lapar. Di mana aja jika ada sawah nyang diderepin para pelajo siap mengambil bagian. Untuk itu perlengkapan memotong padi selalu siap mereka bawa. Seperti ani-ani, tali bambu untuk mengikat hasil panen, serta alat pengangkut padi berupa sebatang bambu sebesar lengan sepanjang 2 sampai 3 meter, atau sundung. Para pelajo membutuhkan bagian dari hasil panen berupa padi. Mereka akan membawa pulang apadi bagiannya sebagai bahan makanan pokok bangsa Indonesia.

(BLEOD)

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :