[Renungan 25 Januari 2015] Bertobat Untuk Mengikuti Yesus


Yun 3:1-5,10; Mzm 25; 1Kor 7:29-31; Mrk 1:14-20

 

 

Penduduk Ninive berpuasa dan mengenakan kain kabung karena pewartaan Yunus mengenai akan dihancurkannya kota mereka. Sebagai ungkapan permohonan yang sungguh- sungguh, hewan piaraan mereka pun diharuskan melakukan hal sama. Tindakan mereka berdasar pada sikap percaya kepada Allah. Namun dasarnya terutama rasa takut akan Allah yang menghukum mereka dan sebagai usaha untuk melerai “murka” Allah atas kejahatan mereka (lih. Yun 1:2b). Karena ungkapan tobat dan niat meninggalkan kejahatan, Allah membatalkan rencana-Nya.

 

 

Sikap lain yang mesti ada dalam diri setiap orang percaya adalah tidak adanya ikatan dengan hal-hal duniawi. Dalam praktek sehari-hari, banyak orang masih mengikatkan diri kepada hal-hal itu. St Paulus mengingatkan agar ada perubahan sikap terhadap hal-hal duniawi, dan mengarahkan hidup hanya kepada Allah, karena Dia yang menentukan keselamatan tetap dan definitif.

Beristri atau tidak beristri, tidak menentukan keselamatan seseorang. Orang yang beristri mesti seolah-olah tidak beristri. Suasana hati sesaat, misalnya kesedihan dan tangisan, tidak menentukan ‘nasib’ secara tetap. Demikianpun kegembiraan sesaat menjadi amat relatif dibandingkan dengan keselamatan yang dinantikan. Harta benda pun tak boleh diandalkan sebagai jaminan keselamatan. Karena itu, semua orang yang percaya memerlukan perubahan sikap terhadap hal-hal duniawi, dari menganggapnya sebagai yang menentukan, menjadi yang amat relatif dari sudut pandang iman akan keselamatan kekal.

Yesus mewartakan perlunya pertobatan seperti diwartakan Yohanes Pembaptis, bukan hanya perubahan sikap karena takut akan hukuman Allah atau mesti merelativir nilai hal-hal duniawi, melainkan meninggalkan sikap dan tindakan jahat dan meminta ampun dari Tuhan (lih. Mrk 1:4b) agar siap menerima Yesus dan percaya.

Perubahan sikap dan tindakan berhubungan dengan kesiapan diri untuk percaya kepada Tuhan. Sikap dasar untuk berubah bukan terutama karena takut akan hukuman atau arah hidup, tetapi upaya agar siap untuk menyambut Dia yang menegakkan Kerajaan Allah, sehingga diterima untuk masuk ke dalam cakupan keselamatan-Nya. Artinya, meninggalkan kejahatan dan dosa belumlah cukup. Kita mesti terbuka dan menerima Kerajaan Allah. Yesus, yaitu Allah yang mewahyukan diri kepada manusia, meraja dan orang yang menantikan keselamatan kekal mesti masuk ke dalam lingkungan kerajaan-Nya.

Masuk dalam wilayah Kerajaan Allah mengandaikan menerima dan meng-amin-i nilai-nilai yang diajarkan oleh sang Mesias (Yang terurapi = Raja) dan menghayatinya dalam hidup sehari-hari. Sikap dan perwujudan itu dilandasi sikap taat secara bertanggung jawab dan mempercayakan diri kepada-Nya.

Para murid pertama adalah kelompok orang yang telah terpesona kepada Yesus, tergerak menerima pewartaan-Nya dan mempercayakan diri kepada-Nya. Mereka meninggalkan siapa dan apapun untuk bergegas mengikuti Dia dan menjadi rasul.

Mereka juga menghidupi nilai-nilai yang diwartakan dan diteladankan oleh Guru mereka sehingga semakin menyerupai Dia. Itulah intisari menjadi murid. Apa yang mereka terima bukan “dinikmati” sendiri, melainkan diwartakan dengan sukacita. Sikap mempercayakan diri itu menjadi pertobatan yang sempurna: meninggalkan yang jahat dan segala sesuatu, serta mengikuti Dia.

Ada sebagian orang memegang teguh aturan agama dan melaksanakannya dengan ketat, karena takut hukuman Allah. Sikap dasar itu tidak salah, namun mestinya sikap takut itu karena mengakui kuasa dan tindakan-Nya menyelamatkan. Kita dipanggil untuk terus berproses menuju ketaatan kepada- Nya karena tahu dan sadar bahwa perintah-Nya benar. Taat karena bertanggung jawab.

Mengagungkan dan mendewakan materi dan harta benda menjadi sikap umum banyak orang zaman ini. Harta benda dan materi telah menjadi berhala baru, demikian Bapa Suci Fransiskus menilai kecenderungan banyak orang zaman ini. Uang dan harta telah dimutlakkan dan mendapat tempat utama, sedangkan yang lain termasuk relasi dengan sesama dan Tuhan menjadi relatif.

Dalam situasi itu, pertobatan mesti mulai dengan menumbuhkan rasa takut akan Tuhan, sumber keselamatan, menempatkan Dia di atas segalanya sehingga berani meninggalkan segala sesuatu, menghidupi nilai Injil dan mempercayakan diri kepada-Nya.

Dengan demikian keterpersonaan akan Yesus pasti berkembang, keserupaan dengan Dia pun nampak dalam hidup sehari-hari dan akan dengan sukacita mewartakan Dia kepada ’ siapapun..(RBP/hidupkatolik.com)

 

 

 

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :