Tradisi Makan Bersama yang Penuh Makna


Oleh FX Jarot Wiranto

Makan Bersama sebagai Ungkapan Persaudaraan

Semua orang suka makanan yang lezat. Apalagi disertai percakapan yang asyik dan pergaulan yang hangat dengan orang-orang yang kita kasihi, waktu makan pun menjadi acara yang menyenangkan, bukan sekedar memuaskan rasa lapar kita. Banyak keluarga membiasakan diri untuk makan bersama sedikitnya satu kali sehari. Waktu makan memungkinkan sebuah keluarga membahas rencana atau pengalaman sepanjang hari. Orangtua yang mendengarkan komentar dan pernyataan anak-anak mereka mendapat sekilas gambaran tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan anak-anak mereka yang masih kecil. Seraya waktu berlalu, pergaulan yang santai dan menyenangkan pada waktu makan menghasilkan perasaan aman, saling percaya, dan saling menyayangi yang membuat ikatan keluarga itu semakin mantap.Di beberapa daerah, ada tradisi makan bersama sebagai ungkapan ikatan kasih persaudaraan yang tulus. 

Sarana Sharing Kitab Suci

Dewasa ini, karena banyak anggota keluarga yang sibuk dan penuh acara, mereka merasa sulit berkumpul untuk makan bersama. Di beberapa bagian dunia, budaya setempat menabukan keluarga untuk makan bersama atau bahkan mengobrol saat makan. Ada juga keluarga yang biasa makan sambil menonton TV, sehingga merampas kesempatan untuk menikmati percakapan yang bermanfaat. Namun, orangtua Kristiani selalu jeli melihat kesempatan untuk membina rumah-tangganya (Ams. 24:27). Lama berselang, orangtua diberitahu bahwa salah satu kesempatan terbaik untuk membicarakan firman Allah kepada anak-anak mereka ialah sewaktu mereka duduk di rumah. “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ul. 6:7).

Dengan makan bersama secara teratur, orangtua punya kesempatan yang unik untuk menanamkan pada anak-anak mereka kasih yang lebih dalam kepada Tuhan dan prinsip-prinsip-Nya yang adil-benar. Dengan mengembangkan suasana yang santai dan riang, kita juga dapat membuat waktu makan menjadi pengalaman yang menyenangkan dan membina bagi keluarga kita. Ya, jadikanlah waktu makan bukan sekedar waktu untuk makan!

Dalam Perjamuan malam terakhir yang dilukiskan dengan indah oleh para seniman terlihat dengan jelas suasana keakraban Para murid dengan Tuhan Yesus dan para murid dengan para murid. Pesan Tuhan Yesus dalam perjamuan malam sungguh menggema di hati para murid dan hingga kini diteruskan secara berkesinambungan.

Di Kampung Sawah, Jati Melati, Bekasi, daerah tempat Paroki Santo Servatius bernaung, ada tradisi sedekah bumi, sebagai ungkapan syukur atas hasil karya, mari kita tandai sedekah bumi dengan pesta makan bersama seluruh umat dalam suasana kasih dan persaudaraan secara berkelimpahan.

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :